Langsung ke konten utama

Sampai Sana Cukup

Semesta memang selalu punya banyak cara untuk menempatkan kita sebagai tokoh utama pada sebuah cerita. Sebenarnya, aku terlalu malas untuk membahas yang sudah-sudah, tapi hari ini orang lama yang tak sengaja bertatap sapa denganku membuka kembali buku berisi kenangan yang sudah lama aku tutup itu. Kita bertemu lagi.

Padahal aku sudah berani membiarkan rasa rindu itu membara tanpa bertemu pemiliknya. Karena aku pun tetap bisa menyukainya tanpa berkomunikasi sekalipun. Ya karena aku sadar bahwa kita tidak bisa menghalangi seseorang untuk bersama pilihannya. Huh, kita tidak bisa memaksa ia untuk tetap sama-sama hanya karena kita setia. Apalagi karena banyak memiliki kesamaan.

“Pertemuan kali ini harus nanya kabar, ya?” tanyanya membuyarkan semua rasa canggung yang mengelilingi kita. 

Haha, sangat lucu. Dia berlagak seperti orang yang tak pernah menggoreskan apa pun. Meskipun sudah nggak apa-apa, tapi ... rasanya masih beda! Aku bisa memaafkan semua kesalahannya, tapi aku masih kesusahan perihal melupakan semua tentangnya—yang baik-baik.

“Tambah jahe hangatnya satu,” kataku pada waiter yang lewat di sebelah meja kami. Lebih tepatnya meja yang lebih dulu aku tempati.

“Kamu masih marah ya sama aku?” dia bertanya seperti sadar dengan apa yang baru saja aku pesan. Dia masih ingat kalau jahe hangat adalah satu-satunya obat yang bisa meredakan semua rasa tak enak padaku.

“Nggak, kata siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Jahe hangat.”

“Udah, yang lalu biarkan aja. Kita nggak punya banyak waktu untuk membahas yang sudah-sudah, Le,” kataku. Paling tidak kalimat ini bisa membuatku semakin menghabiskan banyak waktu bersamanya. Aku harap dia peka dan mau menyambung topik. 

Dia berdehem. “Tapi kamu percaya ‘kan kalau dulu aku nggak selingkuh?” 

Astaga, iya sih menyambung topik, tapi nggak harus ini juga!

Tahan, aku berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kesalku. Minimal bola mataku tak sampai berputar malas.

Pfft, bagaimana aku mengatakannya, Le? Kamu memang tidak berselingkuh, tapi pertemananmu dengan perempuan itu begitu dekat, dan kita harus berpisah saat aku melihatmu bersamanya menghabiskan waktu di detik terakhir mentari tenggelam di danau Rabu sore itu.

“Cewek tuh maunya sama yang sempurna terus, ya.”

Dia berkata dengan kalimat yang aku artikan sebagai sindiran. Aku merasa, Le. Sudah, nggak perlu diperjelas lagi.

“Nggak ada laki-laki yang sempurna. Perempuanlah yang mengidealkan mereka seperti apa,” kataku setelah menyeduh jahe hangat yang baru saja datang. “Sudah, jangan dibahas lagi. Semua sudah selesai. Jangan buka lagi buku yang sudah susah-susah orang lain tutup, Le.”

Why? Dari matamu aku masih bisa melihat rindu dan rasa suka itu terpenjara, Bel.” Dia menatap sekeliling. “Apa kamu nggak mau mempertemukan itu kepada pemiliknya?”

“Tidak ada yang perlu direalisasikan padamu. Kita sudah selesai, dan kalimat itu sudah cukup menjelaskan semuanya.” Dan sejak kalimat itu keluar, ponsel laki-laki yang duduk di seberangku berbunyi memanggilnya untuk segera beranjak dari tempat ini. Aku gagal memperlama waktu. Masa lalu sudah membabat habis kisah kita. Tidak ada lagi waktu untuk berlama-lama lagi.

Rasa suka dan rindu itu memang nyata, tapi aku tidak mau menulis kembali cerita yang punya akhiran sama. Berpisah.

Mars 21:04

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katanya

ORANG bilang mereka menyukai hujan, tapi tidak jarang dari mereka memilih berteduh untuk menghindar dari tetesannya. Satu hal yang ternyata membuat saya paham bahwa: terkadang hal sesederhana itu tidak mesti diterima dengan baik oleh tubuh. Artinya, mungkin mereka bisa leluasa menyukai sesuatu, tapi mereka juga tidak lupa bahwa dunia memiliki kenyataan yang harus ditempuh. Jadi, segala sesuatu memang tidak bisa dipaksakan oleh kehendak manusia itu sendiri, ‘ kan ? Meanwhile, Mars.