Aku menulis ini karena aku takut lupa dengan hari itu. Karena aku merekamnya sendiri dengan netraku. Di suatu hari yang bisa dikatakan sangat strange . Saat pupil coklat pekat milikku menyimak jelas apa yang baru saja terjadi. Satu hari terakhir di bulan Juni. Saat itu hujan mengguyur ibu kota. Padahal sedang kemarau. Rentetan air yang jatuh dari langit membawaku pada sebuah puisi yang ditulis pada tahun 1989 oleh Sapardi Djoko Damono. Diksi sederhana dan tidak mendayu-dayu. Hujan Bulan Juni judulnya. Menggambarkan dua insan yang saling mencintai tetapi salah satunya memiliki keraguan dalam menyampaikan perasaan sehingga rasa itu tak dapat tersampaikan. Agak-agak mirip dengan kisahku sih , bedanya our feelings are never mutual. Hanya aku yang menyukainya. Ja di, bukan sebuah kesalahan apabila diam-diam menyimpan rasa padanya. Karena hanya dalam diam aku tidak menerima adanya penolakan. I can still like you as long as I want. Kembali pada bulan Juni. Aku merasakan hembusan an...
Mars, Semesta & Sastra.