Batu-batuan yang jatuh ke Bumi ternyata menyimpan segudang cerita dan informasi dari masa lalu. Pada bagian ini dia seperti diumpamakan sebagai “batu-batu” itu. Sesuatu dari masa lalu yang datang hanya untuk hilang lagi. Seperti debu-debu sisa komet yang habis terbakar pada ketinggian di atas 80 kilometer. Benda langit itu hilang setelah masuk ke dunia.
Sangat wajar apabila aku memanggilnya Komet. Dia terlihat seperti orang yang masuk ke dunia seseorang hanya karena penasaran. Kalau sudah, ya menghilang. Dan aku sendiri seperti Pluto. Ada, tapi tak dianggap.
“Kita emang punya jarak yang terlalu jauh untuk bisa sama-sama,” kataku pada benda persegi panjang yang bertepi emas palsu. Di dalamnya ada sebuah foto laki-laki yang dilindungi kaca.
“Setelah hilang dan kembali. Sekarang kamu hilang lagi. Semua cowok sama aja, ya! Nggak bisa serius sama satu perempuan.” Aku terus menggerutui nasib malangku yang punya tajuk ‘ditinggal lagi’. Huh, namanya saja Bagaskara. Dia tidak perlu menjadi bulan untuk menyempurnakan malam. Lalu, mengapa aku sibuk menjadi benda langit itu untuknya yang jelas-jelas lebih memaknai siang?
“Aku cuma pergi lama. Kapan-kapan pasti bakalan ketemu lagi, tapi ya harus lewat jalan eksklusif.”
Hm, Bagaskara berkata. Sebenarnya laki-laki itu memang nggak selamanya hilang. Dia masih ada di sini, cuma nggak terlihat aja, tapi aku bisa melihatnya sekarang.
“Dasar buaya. Nggak pernah setia!” cemoohku.
Dia hanya tersenyum. Manis sekali. Lebih manis dari sebatang ratu coklat yang ada di swalayan maret-maret biasanya.
“Buaya itu setia. Termasuk hewan monogami. Cuma punya satu pasangan seumur hidup,” katanya membantah ucapanku.
“Apa-apaan. Jelas-jelas buaya yang kamu maksud itu hewan. Kalau kamu ‘kan ... ayang.” Tentu saja aku mengatakan itu di dalam hati. Problem perempuan memang terletak di gengsinya, kalian tahu itu.
“Terus kenapa kamu pergi? Katanya buaya setia.” Aku berdiri dari posisi sebelumnya. “Apa cuma kamu spesies buaya yang diciptakan buat nggak setia?” tanyaku.
“Pernah denger lagu You’re Gonna Live Forever in Me, nggak?” aku mengangguk atas pertanyaan itu. “Kalau kamu pahami liriknya, di sana tertulis bahwa seseorang mencintai kekasihnya sampai kapan pun. Sekalipun dunia telah hancur.”
Tanganku agak maju untuk dilayukan ke bawah. Tanda ingin menyela kalimatnya. “Dan di sini kamu pingin bilang kalau di lirik lagu itu ada kebenaran tentang kisah kita?” dia mengangguk. Itu artinya jawabanku sesuai sasaran.
“Sekalipun aku nggak lagi ada di samping kamu. Percayalah bahwa kedatanganku untuk pergi lagi kali ini benar-benar membawa perasaan yang dulunya telah mati untuk abadi,” katanya. Bagaskara sama sekali tak terlihat sulit mengatur pertukaran oksigen padahal sebelum ini ia kerap kali sesak napas. Dia tidak bohong. Dia sudah benar-benar sembuh ternyata.
“Ngomong-ngomong, apa nama negara terkecil di dunia?” tanyanya acak.
Of course, “Vatikan.”
“Salah.”
“Lalu?”
“Negara terkecil di dunia ini adalah hatiku karena penduduknya hanya cukup untuk diisi satu jiwa, its you.”
Reflek aku melempar kelopak bunga mawar yang semula berserakan ke arahnya, tapi tembus. Dia bukan lagi seperti Komet. Dia sudah hilang dari dunia bahkan jarak lenyapnya lebih dari 80 kilometer. Kini seorang Bagaskara hanya sebatas bayang-bayang.
Ya ... sedari tadi laki-laki itu hanya datang di imajinasiku. Karena kenyataannya dia kembali hanya untuk pamit undur diri. Pergi hanya untuk pergi lagi, ke Ilahi.
—Mars; 00.07
Bagus sekali. Dan berhasil membuat saya terkejut di akhir cerita. π₯ππππ
BalasHapus