Aku menulis ini karena aku takut lupa dengan hari itu. Karena aku merekamnya sendiri dengan netraku. Di suatu hari yang bisa dikatakan sangat strange. Saat pupil coklat pekat milikku menyimak jelas apa yang baru saja terjadi. Satu hari terakhir di bulan Juni.
Saat itu hujan mengguyur ibu kota. Padahal sedang kemarau. Rentetan air yang jatuh dari langit membawaku pada sebuah puisi yang ditulis pada tahun 1989 oleh Sapardi Djoko Damono. Diksi sederhana dan tidak mendayu-dayu. Hujan Bulan Juni judulnya. Menggambarkan dua insan yang saling mencintai tetapi salah satunya memiliki keraguan dalam menyampaikan perasaan sehingga rasa itu tak dapat tersampaikan.
Agak-agak mirip dengan kisahku sih, bedanya our feelings are never mutual. Hanya aku yang menyukainya. Jadi, bukan sebuah kesalahan apabila diam-diam menyimpan rasa padanya. Karena hanya dalam diam aku tidak menerima adanya penolakan. I can still like you as long as I want.
Kembali pada bulan Juni. Aku merasakan hembusan angin yang dekat sekali dengan pipi, ia menembus dan membuatku seketika merentangkan tangan untuk menikmati apa yang terjadi. Hujan pertama di bulan Juni dan hujan pertama di umur dua puluh.
“Harusnya sekarang aku udah menjajakan segelas kopi.”
Dia berkata tanpa menoleh. Iris mataku bisa melihat jelas ia juga sedang menikmati hujan walaupun jarak kami melebihi satu meter. Suaranya yang agak keras diselingi dentuman air yang jatuh ke aspal masih bisa kudengar walau samar.
“Bukannya kamu nggak mengonsumsi kafein, ya?” tanyaku agak sedikit melipat jarak di antara kami. Di samping halte, di trotoar depan kampus kami sama-sama berdiri. Padahal dia bukan mahasiswa tempatku melanjutkan studi. Entah angin mana yang membawanya tiba-tiba menghampiriku saat di halte sebelum hujan turun tadi.
“Iya, itu dulu. Sekarang udah beda lagi sejak aku lulus SMA,” katanya. Aku menoleh ke arah laki-laki yang dulunya terlihat sangat sempurna, bahkan sampai sekarang. Ternyata banyak yang berubah setelah masa depan memisahkan kami. Tuhan akhirnya mempertemukan lagi sebagai teman lama, bukan dua orang yang dulunya saling menyimpan rasa. Karena hubungan timbal balik seperti yang terjadi di simbiosis mutualisme tidak pernah ada.
“Ngomong-ngomong gimana ceritanya kamu bisa nyasar ke sini?” pertanyaan ini sebenarnya sudah dari tadi ingin aku tanyakan, tapi gengsi untuk memulai percakapan lebih dulu.
Kini gantian, dia menoleh ke arahku, tapi sebentar. Melihat itu, aku kembali menyemulakan pandanganku; lurus dan menganggap tidak ada orang di sekeliling; aku hanya sedang bicara dengan angin.
“Motorku ada di ruko depan. Sengaja ke sini pingin nemenin seseorang.”
Jika diterawang dengan feeling agaknya sekarang pipiku melebam. Hais, tanpa blush on pun pipiku bisa merona. Aku bisa merasakannya saat kulitku memanas padahal sedang hujan.
“Seseorang siapa?” please, ayo bilang kalau itu aku, si kutu buku yang suka tiba-tiba meresensi banyak novel!
Padahal tanpa koar-koar dalam hati pun, aku jelas tahu bahwa jawabannya bukan aku.
“Ya, dia suka banget sama buku. Aku di sini mau nemenin dia cari buku. Hari ini ulang tahunnya.”
Tekanan darahku seketika menurun drastis. Aku syok. Ayolah, aku tidak mau mencerna kalimatnya dalam-dalam, tapi tanpa kucerna pun, tubuhku reflek memberikan sebuah euphoria. Tidak mungkin laki-laki itu mengodeku, ‘kan? Tidak, jangan geer, Nadhifa!
“Apa kabar, Dhif?” dan ... setelah percakapan tadi, dia baru menanyakan kabarku?
“Al—” tak sampai, kalimatnya masih menggantung, seseorang lebih dulu memusatkan fokus kami. Perempuan asing itu berteriak meneriaki nama Mahen. Sang empu bahkan menjawab panggilan itu dengan wajah sumringah. Di tengah wajahnya yang diguyur hujan dan jaket hitam yang sudah basah, laki-laki yang lima tahun mempunyai tempat tersendiri di hatiku sedang memasang wajah berbunga-bunga seolah perempuan itu yang ditunggunya selama menikmati hujan.
“Kenapa nggak neduh, hei?” tanya perempuan itu. Aku di sini agak menjauh, tapi berusaha untuk mendengar pembicaraannya untuk mengetahui siapa perempuan yang mengambil atensi Mahen dariku.
“Ini hanya air, Silia.”
Oh, Silia.
Tiba-tiba dia menatapku dan berkata, “Eh, Dhif! Kenalin, my future wife. Dia yang berulang tahun hari ini.”
Dan sejak saat itu, kabar yang dia tanyakan kuanggap sebagai penutup percakapan singkat kami. Tidak ada lagi kalimat yang keluar setelah itu. Karena kenyataannya kabarku tidak baik-baik saja.
Satu hari terakhir di bulan Juni telah berhasil mematahkan kepingan adegan yang datang memanjakan imajinasiku. Ternyata HBD bukan kependekan dari Happy Birthday, melainkan Happy Bleed Day. Selamat hari luka.
Tentang lupa adalah hal yang semakin membuat kita ingat.
—Mars; 18.11
Komentar
Posting Komentar