Aku menulis ini karena aku takut lupa dengan hari itu. Karena aku merekamnya sendiri dengan netraku. Di suatu hari yang bisa dikatakan sangat strange . Saat pupil coklat pekat milikku menyimak jelas apa yang baru saja terjadi. Satu hari terakhir di bulan Juni. Saat itu hujan mengguyur ibu kota. Padahal sedang kemarau. Rentetan air yang jatuh dari langit membawaku pada sebuah puisi yang ditulis pada tahun 1989 oleh Sapardi Djoko Damono. Diksi sederhana dan tidak mendayu-dayu. Hujan Bulan Juni judulnya. Menggambarkan dua insan yang saling mencintai tetapi salah satunya memiliki keraguan dalam menyampaikan perasaan sehingga rasa itu tak dapat tersampaikan. Agak-agak mirip dengan kisahku sih , bedanya our feelings are never mutual. Hanya aku yang menyukainya. Ja di, bukan sebuah kesalahan apabila diam-diam menyimpan rasa padanya. Karena hanya dalam diam aku tidak menerima adanya penolakan. I can still like you as long as I want. Kembali pada bulan Juni. Aku merasakan hembusan an...
Batu-batuan yang jatuh ke Bumi ternyata menyimpan segudang cerita dan informasi dari masa lalu. Pada bagian ini dia seperti diumpamakan sebagai “batu-batu” itu. Sesuatu dari masa lalu yang datang hanya untuk hilang lagi. Seperti debu-debu sisa komet yang habis terbakar pada ketinggian di atas 80 kilometer. Benda langit itu hilang setelah masuk ke dunia. Sangat wajar apabila aku memanggilnya Komet. Dia terlihat seperti orang yang masuk ke dunia seseorang hanya karena penasaran. Kalau sudah, ya menghilang. Dan aku sendiri seperti Pluto. Ada, tapi tak dianggap. “Kita emang punya jarak yang terlalu jauh untuk bisa sama-sama,” kataku pada benda persegi panjang yang bertepi emas palsu. Di dalamnya ada sebuah foto laki-laki yang dilindungi kaca. “Setelah hilang dan kembali. Sekarang kamu hilang lagi. Semua cowok sama aja, ya! Nggak bisa serius sama satu perempuan.” Aku terus menggerutui nasib malangku yang punya tajuk ‘ditinggal lagi’. Huh, namanya saja Bagaskara. Dia tidak perlu ...